Komunikasi Antarpribadi
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ciri
dan keefektifan Komunikasi Antarpribadi merupakan Komunikasi antarpribadi
bersifat dialogis, dalam arti arus balik antara komunikator dengan komunikan
terjadi langsung, sehingga pada saat itu juga komunikator dapat mengetahui
secara langsung tanggapan dari komunikan, dan secara pasti akan mengetahui
apakah komunikasinya positif, negatif dan berhasil atau tidak. Apabila tidak
berhasil, maka komunikator dapat memberi kesempatan kepada komunikan untuk
bertanya seluas-luasnya. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam penegasan
istilah, penelitian ini lebih ditekankan pada dimensi psikologis perilaku
komunikasi antarpribadi siswa. Sehingga secara psikologis perilaku komunikasi
antarpribadi siswa meliputi keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif dan
kesetaraan
B.
Rumusan Masalah
1. Apa Keefektifan Komunikasi Antarpribadi?
2. Apa Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidakefektifan
Komunikasi Antarpribadi?
3. Bagaimana Kemampuan menyimak Dalam Komunikasi
Antarpribadi?
4. Bagaimana Keefektifan Membuka Diri?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Keefektifan Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi
antarpribadi bersifat dialogis, dalam arti arus balik antara komunikator dengan
komunikan terjadi langsung, sehingga pada saat itu juga komunikator dapat
mengetahui secara langsung tanggapan dari komunikan, dan secara pasti akan
mengetahui apakah komunikasinya positif, negatif dan berhasil atau tidak.
Apabila tidak berhasil, maka komunikator dapat memberi kesempatan kepada
komunikan untuk bertanya seluas-luasnya. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam
penegasan istilah, penelitian ini lebih ditekankan pada dimensi psikologis
perilaku komunikasi antarpribadi siswa. Sehingga secara psikologis perilaku
komunikasi antarpribadi siswa meliputi keterbukaan, empati, dukungan, rasa
positif dan kesetaraan.
Berikut
ini merupakan ciri-ciri keefektifan komunikasi antarpribadi menurut Kumar
(Wiryanto, 2005: 36) dan De vito (Sugiyo, 2005: 4) bahwa ciri-ciri komunikasi
antarpribadi tersebut yaitu:
1) Keterbukaan
(Openess), yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima
di dalam menghadapi hubungan antar pribadi.
2) Empati
(Empathy), yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain.
3) Dukungan
(Supportiveness), yaitu situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi
berlangsung efektif.
4) Rasa
positif (positivenes), seseorang harus memiliki perasaan positif terhadap
dirinya, mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan
situasi komunikasi kondusif untuk interaksi yang efektif.
5) Kesetaraan
atau kesamaan (Equality), yaitu pengakuan secara diamdiam
bahwa
kedua belah pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk
disumbangkan.Senada dengan yang dikemukakan oleh De vito (Sugiyo, 2005: 4)
bahwa ciri-ciri komunikasi antarpribadi tersebut demikian. Dari kelima ciri-ciri efektifitas kamunikasi
antar pribadi tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Keterbukaan
(Openess)
Keterbukaan
atau sikap terbuka sangat berpengaruh dalam menumbuhkan komunikasi antarpribadi
yang efektif. Keterbukaan adalah pengungkapan reaksi atau tanggapan kita
terhadap situasi yang sedang dihadapi serta memberikan informasi tentang masa
lalu yang relevan untuk memberikan tanggapan kita di masa kini tersebut.Johnson
Supratiknya, (1995: 14) mengartikan keterbukaan diri yaitu membagikan kepada
orang lain perasaan kita terhadap sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukan,
atau perasaan kita terhadap kejadiankejadian yang baru saja kita saksikan. Secara
psikologis, apabila individu mau membuka diri kepada orang lain, maka orang
lain yang diajak bicara akan merasa aman dalam melakukan komunikasi
antarpribadi yang akhirnya orang lain tersebut akan turut membuka diri. Brooks
dan Emmert (Rahmat, 2005: 136) mengemukakan bahwa karakteristik orang yang
terbuka adalah sebagai berikut: Menilai pesan secara objektif, dengan menggunakan
data dan keajegan logika. Membedakan dengan mudah, melihat nuansa, dsb. Mencari
informasi dari berbagai sumber Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai
dengan rangkaian kepercayaannya.
2) Empati
(Empathy)
Komunikasi
antarpribadi dapat berlangsung kondusif apabila komunikator (pengirim pesan)
menunjukkan rasa empati pada komunikan (penerima pesan). Menurut Sugiyo (2005:
5) empati dapat diartikan sebagai menghayati perasaan orang lain atau turut
merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sementara Surya (Sugiyo, 2005: 5)
mendefinisikan bahwa empati adalah sebagai suatu kesediaan untuk memahami orang
lain secara paripurna baik yang nampak maupun yang terkandung, khususnya dalam
aspek perasaan, pikiran dan keinginan. Individu dapat menempatkan diri dalam
suasana perasaan, pikiran dan keinginan orang lain sedekat mungkin apabila
individu tersebut dapat berempati. Apabila empati tersebut tumbuh dalam proses
komunikasi antarpribadi, maka suasana hubungan komunikasi akan dapat berkembang
dan tumbuh sikap saling pengertian dan penerimaan. Menurut Winkel (1991: 175)
bahwa empathy yaitu, konselor mampu mendalami pikiran dan menghayati perasaan
siswa, seolah-olah konselor pada saat ini menjadi siswa, tanpa terbawa-bawa
sendiri oleh semua itu dan kehilangan kesadaran akan pikiran serta perasaan
pada diri sendiri. Sedangkan Jumarin (2002: 97) menyatakan bahwa empati tidak
saja berkaitan dengan aspek kognitif, tetapi juga mengandung aspek afektif, dan
ditunjukkan dalam gerakan, cara berkomunikasi (mengandung dimensi kognitif,
afektif, perseptual, somatic/kinesthetic, apperceptual dan communicative).
3) Dukungan
(Supportiveness)
Dalam
komunikasi antarpribadi diperlukan sikap memberi dukungan dari pihak
komunikator agar komunikan mau berpartisipasi dalam komunikasi. Hal ini senada
dikemukakan Sugiyo (2005: 6) dalam komunikasi antarpribadi perlu adanya suasana
yang mendukung atau memotivasi, lebih-lebih dari komunikator. Rahmat (2005
:133) mengemukakan bahwa “sikap supportif adalah sikap yang mengurangi sikap
defensif . Orang yang defensif cenderung lebih banyak melindungi diri dari
ancaman yang ditanggapinya ddalam situasi komunikan dari pada memahami pesan
orang lain. Dukungan merupakan pemberian dorongan atau pengobaran semangat
kepada orang lain dalam suasana hubungan komunikasi. Sehingga dengan adanya
dukungan dalam situasi tersebut, komunikasi antarpribadi akan bertahan lama
karena tercipta suasana yang mendukung. Jack R.Gibb (Rahmat, 2005: 134)
menyebutkan beberapa perilaku yang menimbulkan perilaku suportif, yaitu:
a) Deskripsi,
yaitu menyampaikan perasaaan dan persepsi kepada orang lain tanpa menilai;
tidak memuji atau mengecam, mengevaluasi pada gagasan, bukan pada pribadi orang
lain, orang tersebut “merasa” bahwa kita menghargai diri mereka.
b) Orientasi
masalah, yaitu mengajak untuk bekerja sama mencari pemecahan masalah, tidak
mendikte orang lian, tetapi secara bersamasama menetapkan tujuan dan memutuskan
bagaimana mencapainya.
c) Spontanitas,
yaitu sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang terpendam.
d) Provisionalisme,
yaitu kesediaan untuk meninjau kembali pendapat diri sendiri, mengakui bahwa
manusia tidak luput dari kesalahan sehingga wajar kalau pendapat dan keyakinan
diri sendiri dapat berubah.
4) Rasa
positif (positivenes)
Rasa
positif merupakan kecenderungan seseorang untuk mampu bertindak berdasarkan
penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebihan, menerima diri
sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, memiliki keyakinan
atas kemampuannya untuk mengatasi persoalan, peka terhadap kebutuhan orang
lain, pada kebiasaan sosial yang telah diterima. Dapat memberi dan menerima
pujian tanpa pura-pura memberi dan menerima penghargaan tanpa merasa bersalah. Sugiyo
(2005: 6) mengartikan bahwa rasa positif adalah adanya kecenderungan bertindak
pada diri komunikator untuk memberikan penilaian yang positif pada diri
komunikan. Dalam komunikasi antarpribadi hedaknya antara komunikator dengan
komunikan saling menunjukkan sikap positif, karena dalam hubungan komunikasi
tersebut akan muncul suasana menyenangkan, sehingga pemutusan hubungan
komunikasi tidak dapat terjadi. Rahmat (2005: 105) menyatakan bahwa sukses
komunikasi antarpribadi banyak tergantung pada kualitas pandangan dan perasaan
diri; positif atau negatif. Pandangan dan perasaan tentang diri yang positif, akan
lahir pola perilaku komunikasi antarpribadi yang positif pula.
5) Kesetaraan
(Equality)
Kesetaraan
merupakan perasaan sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau
rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang
keluarga atau sikap orang lain terhadapnya. Rahmat (2005: 135) mengemukakan
bahwa persamaan atau kesetaraan adalah sikap memperlakukan orang lain secara
horizontal dan demokratis, tidak menunjukkan diri sendiri lebih tinggi atau
lebih baik dari orang lain karena status, kekuasaan, kemampuan intelektual
kekayaan atau kecantikan. Dalam persamaan tidak mempertegas perbedaan, artinya
tidak mengggurui, tetapi berbincang pada tingkat yang sama, yaitu mengkomunikasikan
penghargaan dan rasa hormat pada perbedaan pendapat merasa nyaman, yang
akhirnya proses komunikasi akan berjalan dengan baik dan lancar.
B.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidakefektifan
Komunikasi Antarpribadi
Hambatan-Hambatan Komunikasi Menurut
RonLudlow&Fergus Panton Di dalam komunikasi selalu ada hambatan yang dapat
mengganggu kelancaran jalannya proses komunikasi. Sehingga informasi dan
gagasan yang disampaikan tidak dapat diterima dan dimengerti dengan jelas oleh
penerima pesan atau receiver. Menurut Ron Ludlow & Fergus Panton, ada
hambatan-hambatan yang menyebabkan komunikasi tidak efektif yaitu adalah
(1992,p.10-11) :
1)
Status effect
Adanya
perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia.Misalnya
karyawan dengan status sosial yang lebih rendah harus tunduk dan patuh apapun
perintah yang diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak dapat atau takut
mengemukakan aspirasinya atau pendapatnya.
2)
Semantic Problems
Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan
komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaanya kepada
komunikan. Demi kelancaran komunikasi seorang komunikator harus benar-benar
memperhatikan gangguan sematis ini, sebab kesalahan pengucapan atau kesalahan
dalam penulisan dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau
penafsiran (misinterpretation) yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah
komunikasi (miscommunication). Misalnya kesalahan pengucapan bahasa dan salah
penafsiran seperti contoh: pengucapan demonstrasi menjadi demokrasi, kedelai
menjadi keledai dan lain-lain.
3)
Perceptual distorsion
Perceptual distorsion dapat disebabkan karena
perbedaan cara pandangan yang sempit pada diri sendiri dan perbedaaan cara
berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain. Sehingga dalam
komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan wawasan atau cara pandang antara satu
dengan yang lainnya.
4)
Cultural Differences
Hambatan yang terjadi karena disebabkan adanya
perbedaan kebudayaan, agama dan lingkungan sosial. Dalam suatu organisasi
terdapat beberapa suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Sehingga ada beberapa
kata-kata yang memiliki arti berbeda di tiap suku. Seperti contoh: kata
“jangan” dalam bahasa Indonesia artinya tidak boleh, tetapi orang suku jawa
mengartikan kata tersebut suatu jenis makanan berupa sup.
5)
Physical Distractions
Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan fisik
terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contohnya : suara riuh orang-orang
atau kebisingan, suara hujan atau petir, dan cahaya yang kurang jelas.
6)
Poor choice of communication
channels
Gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan
dalam melancarkan komunikasi. Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya
sambungan telephone yang terputus-putus, suara radio yang hilang dan muncul,
gambar yang kabur pada pesawat televisi, huruf ketikan yang buram pada surat
sehingga informasi tidak dapat ditangkap dan dimengerti dengan jelas.
7)
No Feed back
Hambatan tersebut adalah seorang sender mengirimkan
pesan kepada receiver tetapi tidak adanya respon dan tanggapan dari receiver
maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia. Seperti contoh :
Seorang manajer menerangkan suatu gagasan yang ditujukan kepada para karyawan,
dalam penerapan gagasan tersebut para karyawan tidak memberikan tanggapan atau
respon dengan kata lain tidak peduli dengan gagasan seorang manajer.
C.
Kemampuan menyimak Dalam Komunikasi Antarpribadi
Menyimak dan
mendengar bukanlah fungsi yang sama. Mendengar adalah proses masuknya gelombang
suara melalui telinga dan kemudian dikirim ke otak. Sedangkan menyimak
merupakan proses yang lebih rumit. Setelah gelombang suara dikirim ke otak, ada
proses berikutnya yang harus dilalui ketika kita menyimak. Menyimak tidak hanya
dipengaruhi oleh audio dan visual saja, melainkan ada juga peran sense, emosi,
rasa, sentuhan, dan sebagainya yang juga berpengaruh dalam proses penyimakan. Baddeley
& Hitch (1974) menyatakan bahwa setelah pesan diterima secara audio (dan
visual), maka pesan tersebut akan bertemu dengan apa yang disebut dengan memori.
Short Term
Memory (STM) merupakan memori jangka pendek yang memegang informasi dalam
jumlah yang sangat terbatas dan jangka waktunya berbeda-beda pada masing-masing
orang. Menurut psikolog kognitif, atensi (perhatian) merupakan kombinasi dari
system sensor dan mekanisme memori. Salah satu factor yang bisa mempengaruhi system
sensor dan mekanisme memori adalah peran media. Karena pengaruh media, jangka
waktu seseorang dalam memberikan perhatian dan konsentrasi pada sebuah hal menjadi
semakin terbatas. Di “era televisi” seperti sekarang, orang sudah terbiasa
dengan hadirnya iklan di setiap tayangan program. Rata-rata jeda iklan satu
dengan iklan berikutnya adalah 7-10 menit, sehingga lamanya waktu dalam
memperhatikan menjadi tersistem mengikuti pola tersebut. Dengan demikian akan
mempengaruhi juga misalnya pada : perhatian waktu menyimak kuliah, partisipasi
ketika terlibat pembicaraan, lamanya waktu menyimak (berkonsetrasi) menjadi
terbatas.
Menurut Kahneman (1973), kemampuan penyimak dalam memperhatikan pesan dipengaruhi oleh energi atensi. Energi atensi dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
Menurut Kahneman (1973), kemampuan penyimak dalam memperhatikan pesan dipengaruhi oleh energi atensi. Energi atensi dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
- Berdasarkan beban mental, semakin banyak beban pada diri seseorang maka akan semakin terbatas energy atensi dari seseorang;
- Tindakan di luar kesadaran (misalnya, orang akan lebih focus memperhatikan ketika namanya disebut dalam sebuah pesan yang ia dengar);
- Keputusan yang disadari (misalnya, kita cenderung memperhatikan pesan yang disampaikan oleh atasan daripada yang disampaikan oleh rekan kerja kita).
Mempersepsikan
pesan tidak hanya dipengaruhi oleh energy atensi, melainkan juga oleh
perceptual filter. Perceptual filter berfungsi untuk menyaring atau memilih
pesan berdasarkan kecenderungan perilaku dan pola pikir penyimak. Kecenderungan
ini dipengaruhi oleh frame of references masing-masing penyimak. Sedangkan
frame of references seseorang dipengaruhi oleh pengalaman, peran, kondisi
mental atau fisiknya.Frame of references akan membuat proses menyimak menjadi
lebih sistematis. Dengan adanya frame of references, seseorang akan benar-benar
memilih mana yang sebenarnya ingin ia dengar, dan mana yang tidak ketika
berkomunikasi.
Menterjemahkan
merupakan awal dari proses decoding. Proses menterjemahkan dipengaruhi oleh
perceptual filter dan linguistic category system (system kebahasaan). Sistem
kebahasaan menyebabkan setiap orang bisa memiliki pemaknaan yang berbeda-beda
terhadap suatu hal (pesan). Misalnya seorang yang menyampaikan pesan dengan
kalimat yang ambigu, maka bisa saja pesan tersebut dimaknai berbeda oleh
penyimaknya.
Selain dua
hal tersebut di atas. proses kognitif juga berpengaruh pada proses
penterjemahan. Proses kognitif merupakan aktifitas mental yang dibentuk oleh :
dominasi otak kanan dan kiri; orientasi deduktif, induktif dan intuisi; serta
long term memory. Dalam keseharian, setiap orang bertemu dengan ketiga proses
kognitif tersebut, sehingga kemampuan untuk memanggil kembali informasi atau
memori yang tersimpan menjadi penting dalam proses komunikasinya.
Proses
decoding menjadi sebuah proses yang komplek dalam memaknai dan menerjemahkan
pesan. Untuk menggambarkan kompleksitas tersebut, psikologi kognitif
menggunakan “teori skema” (kerangka mental yang berpusat pada tema-tema
spesifik yang membantu mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi).
Skema dibentuk oleh pengalaman dan budaya (berhubungan dengan nilai-nilai).
Teori skema mengatakan bahwa manusia memiliki skemata di otaknya. Schemata
terdiri dari 2 unsur yaitu nodes (pusat, sentral, event, objek) dan links
(relationship, cabang-cabang dari nodes). Informasi baru yang didapat oleh
penyimak, diterima pertama kali melalui schemata, baru setelah itu
diterjemahkan maknanya.
Fungsi
schemata yaitu menghubungkan konsep informasi besar yang diterima (nodes) dan
links, keduanya lalu dikaitkan ke suatu tindakan untuk dapat mengantisipasi
konsekuensi atau resiko. Menurut Smith (1982), fungsi schemata ada 3, yaitu
:
- Memberi tahu kita, apa hal yang perlu diperhatikan;
- Kerangka kerja (framework) untuk menafsir informasi apa yang masuk;
- Membentuk kerangka penyimpanan pesan di memori.
Dengan
begitu, respon kognitif terhadap pesan berfungsi untuk membatasi interpretasi
penyimak terhadap informasi yang diterima.
Setelah
memaknai sebuah pesan, penyimak lalu menanggapinya (merespon). Ada 2 tahapan
respon yaitu internal dan eksternal. Proses internal adalah tahapan dari proses
mendengarkan, memperhatikan , dan menginterpretasikan pesan dari memori jangka
pendek (STM) ke memori jangka panjang (LTM) agar dapat diingat sewaktu-waktu.
Untuk
memudahkan dalam penyimpanan memori tersebut, ada beberapa strategi yang bisa
digunakan yaitu :
- Mnemonic device, membikin singkatan pribadi untuk memudahkan pemahaman terhadap sebuah pesan;
- Linking, membuat keterkaitan hubungan dengan yang lain (peristiwa, waktu, tempat, dsb);
- Clustering, mengelompokkan pesan sesuai dengan klasifikasinya (penentuan pengelompokan ini tergantung atas pengalaman pribadi penyimak);
- Chunking (menggabungkan pesan agar dapat diartikan menjadi satu konsep).
Proses kedua
adalah eksternal, yang merupakan feedback dari sebuah pemaknaan pesan. Dapat
memberikan feedback atas pesan yang diterima merupakan salah satu indikasi
seorang penyimak yang baik.
Adanya
feedback dapat meningkatkan rasa percaya diri, karena baik penyimak dan pembicara
memperoleh keyakinan bahwa pesan dikomunikasikan dengan tepat (Leavit and
Muller, 1968).Bagi sebagian pakar, feedback bukan merupakan bagian dari proses
menyimak karena feedback bentuknya sudah menyampaikan (tidak lagi mendengar).
Tapi ada juga yang berpendapat bahwa feedback merupakan indikasi keberhasilan
dari proses menyimak.
Proses
Receiving, Attending, Perceiving, Interpretting dan Responding dipengaruhi oleh
banyak faktor seperti : pembicara, penyimak, lingkungan, pesan, dan chanel.
Kelima proses menyimak tersebut saling mempengaruhi dan dalam prakteknya
(dapat) terjadi secara bersama-sama. Misalnya ketika seseorang sedang
menterjemahkan pesan, pada saat itu juga terjadi proses menerima dan
mempersepsikan pesan (bisa pesan yang sama ataupun berbeda).
D.
Apa itu
membuka diri
Membuka diri
adalah mengemukakan bagaimana reaksi terhadap situasi yang dialami saat ini dan
memberikan informasi yang relevan mengenai masa lalu sebagai usaha untuk
memahami mengapa pada saat ini muncul reaksi tertentu. Artinya dalam membuka
diri seseorang membagi perasaannya dengan orang lain terhadap peristiwa yang
baru saja terjadi, atau pada apa yang baru saja dilakukan dan dikatakan orang
lain.
Dalam
kehidupan sosial di masyarakat, individu seringkali dirundung rasa curiga dan
tidak percaya diri yang kuat sehingga tidak berani menyampaikan berbagai
gejolak atau pun emosi yang ada di dalam dirinya kepada orang lain, apalagi
jika menyangkut hal-hal yang dianggapnya tidak baik untuk diketahui orang lain.
Akibatnya individu tersebut lebih banyak memendam berbagai persoalan hidup yang
akhirnya seringkali terlalu berat untuk ditanggung sendiri sehingga menimbulkan
berbagai masalah psikologis maupun fisiologis.
Hal tersebut
harus dilihat sebagai suatu siklus yang melibatkan 3 (tiga) hal yaitu
pengungkapan diri, hubungan persahabatan dan penerimaan terhadap diri sendiri.
Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
1)
Merupakan suatu hal yang sangat baik
jika seseorang mengatakan kepada temannya atau orang lain yang berinteraksi
daenganya, bagaimana mereka dapat mempengaruhi dirinya. Dengan
mengungkapkan perasaan dan berbagi
pengalaman maka akan dapat semakin mempererat hubungan persahabatan.
2)
Penerimaan teman atau orang
lain akan memudahkan seseorang untuk
dapat menerima kondisi dirinya sendiri.
3)
.Karena seseorang sudah dapat
menerima diri sendiri dan merasa nyaman dengan kondisi tersebut, maka orang
tersebut akan lebih mudah untuk mengungkapkan diri sehingga hubungan dengan
teman terasa lebih menyenangkan.
4)
Dengan adanya berbagai masukan dari
orang lain, rasa aman yang tinggi, dan penerimaan terhadap diri, maka seseorang
akan dapat melihat dirinya sendiri secara lebih mendalam dan mampu menyelesaikan
berbagai masalah hidup.
Membuka diri
tidak selalu dapat ditampilkan setiap saat namun harus mempertimbangkan situasi
dan jenis hubungan yang perlu diperhatikan, yaitu :
membuka diri
sebaiknya dilakukan pada situasi yang spesifik dan merupakan bagian dari suatu
hubungan yang berkelanjutan. hubungan yang terbina bersifat dua arah, yaitu
apabila kedua orang yang terlibat dalam hubungan menginginkan agar hubungannya
terus berlanjut.
memperhatikan
apa yang terjadi pada saat itu. Maksudnya membuka diri harus disesuaikan dengan
konteks kejadian pada saat itu, misalnya dengan mengatakan mengapa merasa
terharu saat mendengar lagu tertentu yang saat itu sedang dindengarkan. mencipatkan
situasi yang dapat mempererat hubungan. Membuka diri dapat dilakuakn pada
situasi yang mendukung terciptanya hubungan yang lebih erat. Misalnya ada
dukungan dari teman atau keluarga untuk mempererat hubungan dengan seseorang.
Memperhitungkan
akibat-akibat yang akan terjadi pada suatu hubungan Bila diprediksikan hubungan
yang terjalin dapat memberikan akibat positif, maka membuka diri merupakan
suatu usaha yang dapat dilakukan. keinginan membuka diri meningkat saat terjadi
krisis dalam hubungan. Bila terjadi konflik atau masalah dalam suatu hubungan,
dan orang semakin tertarik untuk saling mendekatkan diri, maka pada saat itu
membuka diri tepat dilakuakn.
Ketika kita
bertemu dengan orang yang tidak tepat atau orang terebut akan memberikan reaksi
yang berlebihan dan salah mengartikan terhadap usaha membuka diri, labih baik
dian saja.
Bagi yang
mengalami masalah dalam mengungkapkan diri kepada orang lain, ada 4 (empat)
langkah yang dapat dilakukan agar pengungkapan diri dapat berjalan efektif.
Keempat langkah tersebut adalah:
1)
Tanyakan pada diri sendiri,
sejauhmana saya akan membuka diri? Hal-hal apa yang bisa saya bagi dengan orang
lain dan kepada siapa? Setiap orang
memiliki rahasia pribadi. Hal tersebut sangatlah normal karena setiap orang
tentu ingin menjaga agar hal-hal khusus tidak perlu diketahui oleh orang lain.
Sayangnya banyak rahasia yang sebenarnya justru tidak perlu dirahasiakan karena
tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain, tetapi karena takut orang lain
tidak memahami rahasia tersebut maka rahasia ini disimpan terus-menerus . Hal
inilah yang harus diperhatikan oleh seseorang jika ingin mengungkapkan diri.
2)
Lakukan persiapan sebelum membuka
diri. Atasi terlebih dahulu kekhawatiran dan ketakutan Untuk mengatasi kekhawatiran, ketakutan atau
ketidakpercayaan diri, seseorang dapat memulai pengungkapan diri dengan memilih
topik pembicaraan pada hal-hal yang ringan dan santai. Contohnya: berbagi
cerita tentang acara televisi atau film
yang disukai, perawatan mobil/motor, kegiatan di sekolah atau kantor, dll. Pada
awalnya usahakan untuk tidak mengutarakan berbagai perasaan atau opini
pribadi. Jika tahapan ini sudah dilalui dan berhasil dengan baik,
barulah memilih orang yang dapat dipercaya untuk mengemukakan pendapat pribadi
maupun perasaan pribadi tentang suatu hal, misalnya utarakan apa yang di
rasakan dan apa yang diharapkan dari teman. Secara berangsur-angsur lakukan hal
tersebut dengan beberapa yang berbeda. Dengan cara ini seseorang akan menjadi
lebih mudah untuk memulai komunikasi dan selanjutnya menjadi terbiasa dalam
berbagi informasi
3)
Tingkatkan terus ketrampilan dalam
mengungkapkan diri. Pelajari cara-cara
mengungkapkan diri dan bagaimana memberikan masukan yang bermanfaat. Pengungkapan diri melibatkan cara-cara penyampaian
informasi yang baik dan jelas sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi orang
yang menerima informasi tersebut. Jika
ingin berbagi informasi maka kemukakan hal itu sejelas-jelasnya, hindari
ketidakjujuran, kemukakan dengan bahasa sederhana dan jangan berbelit-belit.
Jangan berasumsi bahwa orang lain mempunyai presepsi yang sama, mengetahui
perasaan dan kebutuhan seseorang tanpa harus dikatakan. Ingatlah bahwa tidak
ada seorangpun yang dapat membaca pikiran orang lain. Jadi seseorang harus
mengatakan dan menjelaskan bagiamana perasaannya, apa kebutuhannya saat ini dan
apa yang diharapkan dari orang lain. Jika ada hal-hal yang dirasa kurang jelas,
bertanyalah pada saat ini dan jangan berasumsi.
4)
Ungkapkan diri anda secara tepat
dengan pemilihan waktu dan situasi yang tepat pula Agar dapat mengungkapkan diri secara tepat pada waktu atau
situasi yang tepat, perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: Pertama-tama harus memiliki suatu alasan mengapa perlu
membuka diri. Dengan siapa
akan berbicara..teman dekat? orangtua? atasan? kenalan baru? atau siapa? Sejauhmana pengungkapan diri akan membahayakan diri
sendiri?
Manfaat
Membuka Diri :
1)
Meningkatkan kesadaran diri
(self-awareness). Dalam proses pemberian informasi kepada orang lain, seseorang
akan lebih jelas dalam menilai kebutuhan, perasaan, dan hal psikologis dalam
dirinya. Selain itu, orang lain akan membantu dalam memahami diri seseorang,
melalui berbagai masukan yang diberikan, terutama jika hal itu dilakukan dengan
penuh empati dan jujur.
2)
Membangun hubungan yang lebih dekat
dan mendalam, saling membantu dan lebih berarti bagi kedua belah pihak.
Keterbukaan merupakan suatu hubungan timbal balik, semakin terbuka pada orang
lain maka orang lain akan berbuat hal yang sama. Dari keterbukaan tersebut maka
akan timbul kepercayaan dari kedua pihak sehingga akhirnya akan terjalin hubungan
persahabatan yang sejati.
3)
Mengembangkan ketrampilan
berkomunikasi yang memungkinkan seseorang untuk menginformasikan suatu hal
kepada orang lain secara jelas dan lengkap tentang bagaimana ia memandang suatu
situasi, bagaimana perasaannya tentang hal tersebut, apa yang terjadi, dan apa
yang diharapkan.
4)
Mengurangi rasa malu dan
meningkatkan penerimaan diri (self acceptance). Jika orang lain dapat menerima
orang lain apa adanya maka kemungkinan besar orang itupun dapat menerima
dirinya.
5)
Memecahkan berbagai konflik dan
masalah interpersonal. Jika orang lain mengetahui kebutuhan seseorang,
ketakutan, rasa frustrasi, dsb, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk
bersimpati atau memberikan bantuan sehingga sesuai dengan apa yang diharapkan.
6)
Memperoleh energi tambahan dan
menjadi lebih spontan. Harap diingat bahwa untuk menyimpan suatu rahasia
dibutuhkan energi yang besar dan dalam kondisi demikian seseorang akan lebih
cepat marah, tegang, pendiam dan tidak riang. Dengan berbagi informasi hal-hal
tersebut akan hilang atau berkurang dengan sendirinya.
Daftar
Pustaka
Sugiyo. 2005. “Komunikasi Antarpribadi”. Semarang:
UNNES Press
Liliweri, Alo. 2004. “Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya”.
Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Changara, Hafied. 2003.
“Pengantar Ilmu Komunikasi”. Jakarta:
Raja Grafindo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar