Selasa, 22 Mei 2018

Komunikasi Antarpribadi

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Ciri dan keefektifan Komunikasi Antarpribadi merupakan Komunikasi antarpribadi bersifat dialogis, dalam arti arus balik antara komunikator dengan komunikan terjadi langsung, sehingga pada saat itu juga komunikator dapat mengetahui secara langsung tanggapan dari komunikan, dan secara pasti akan mengetahui apakah komunikasinya positif, negatif dan berhasil atau tidak. Apabila tidak berhasil, maka komunikator dapat memberi kesempatan kepada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam penegasan istilah, penelitian ini lebih ditekankan pada dimensi psikologis perilaku komunikasi antarpribadi siswa. Sehingga secara psikologis perilaku komunikasi antarpribadi siswa meliputi keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif dan kesetaraan


B.  Rumusan Masalah
1.      Apa Keefektifan Komunikasi Antarpribadi?
2.      Apa Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidakefektifan Komunikasi Antarpribadi?
3.      Bagaimana Kemampuan menyimak Dalam Komunikasi Antarpribadi?
4.      Bagaimana Keefektifan Membuka Diri?






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Keefektifan Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi bersifat dialogis, dalam arti arus balik antara komunikator dengan komunikan terjadi langsung, sehingga pada saat itu juga komunikator dapat mengetahui secara langsung tanggapan dari komunikan, dan secara pasti akan mengetahui apakah komunikasinya positif, negatif dan berhasil atau tidak. Apabila tidak berhasil, maka komunikator dapat memberi kesempatan kepada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam penegasan istilah, penelitian ini lebih ditekankan pada dimensi psikologis perilaku komunikasi antarpribadi siswa. Sehingga secara psikologis perilaku komunikasi antarpribadi siswa meliputi keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif dan kesetaraan.
Berikut ini merupakan ciri-ciri keefektifan komunikasi antarpribadi menurut Kumar (Wiryanto, 2005: 36) dan De vito (Sugiyo, 2005: 4) bahwa ciri-ciri komunikasi antarpribadi tersebut yaitu:
1)      Keterbukaan (Openess), yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima di dalam menghadapi hubungan antar pribadi.
2)      Empati (Empathy), yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain.
3)      Dukungan (Supportiveness), yaitu situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung efektif.
4)      Rasa positif (positivenes), seseorang harus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk interaksi yang efektif.
5)      Kesetaraan atau kesamaan (Equality), yaitu pengakuan secara diamdiam
bahwa kedua belah pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.Senada dengan yang dikemukakan oleh De vito (Sugiyo, 2005: 4) bahwa ciri-ciri komunikasi antarpribadi tersebut demikian.    Dari kelima ciri-ciri efektifitas kamunikasi antar pribadi tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1)      Keterbukaan (Openess)
Keterbukaan atau sikap terbuka sangat berpengaruh dalam menumbuhkan komunikasi antarpribadi yang efektif. Keterbukaan adalah pengungkapan reaksi atau tanggapan kita terhadap situasi yang sedang dihadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan untuk memberikan tanggapan kita di masa kini tersebut.Johnson Supratiknya, (1995: 14) mengartikan keterbukaan diri yaitu membagikan kepada orang lain perasaan kita terhadap sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukan, atau perasaan kita terhadap kejadiankejadian yang baru saja kita saksikan. Secara psikologis, apabila individu mau membuka diri kepada orang lain, maka orang lain yang diajak bicara akan merasa aman dalam melakukan komunikasi antarpribadi yang akhirnya orang lain tersebut akan turut membuka diri. Brooks dan Emmert (Rahmat, 2005: 136) mengemukakan bahwa karakteristik orang yang terbuka adalah sebagai berikut: Menilai pesan secara objektif, dengan menggunakan data dan keajegan logika. Membedakan dengan mudah, melihat nuansa, dsb. Mencari informasi dari berbagai sumber Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya.

2)      Empati (Empathy)
Komunikasi antarpribadi dapat berlangsung kondusif apabila komunikator (pengirim pesan) menunjukkan rasa empati pada komunikan (penerima pesan). Menurut Sugiyo (2005: 5) empati dapat diartikan sebagai menghayati perasaan orang lain atau turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sementara Surya (Sugiyo, 2005: 5) mendefinisikan bahwa empati adalah sebagai suatu kesediaan untuk memahami orang lain secara paripurna baik yang nampak maupun yang terkandung, khususnya dalam aspek perasaan, pikiran dan keinginan. Individu dapat menempatkan diri dalam suasana perasaan, pikiran dan keinginan orang lain sedekat mungkin apabila individu tersebut dapat berempati. Apabila empati tersebut tumbuh dalam proses komunikasi antarpribadi, maka suasana hubungan komunikasi akan dapat berkembang dan tumbuh sikap saling pengertian dan penerimaan. Menurut Winkel (1991: 175) bahwa empathy yaitu, konselor mampu mendalami pikiran dan menghayati perasaan siswa, seolah-olah konselor pada saat ini menjadi siswa, tanpa terbawa-bawa sendiri oleh semua itu dan kehilangan kesadaran akan pikiran serta perasaan pada diri sendiri. Sedangkan Jumarin (2002: 97) menyatakan bahwa empati tidak saja berkaitan dengan aspek kognitif, tetapi juga mengandung aspek afektif, dan ditunjukkan dalam gerakan, cara berkomunikasi (mengandung dimensi kognitif, afektif, perseptual, somatic/kinesthetic, apperceptual dan communicative).
3)      Dukungan (Supportiveness)
Dalam komunikasi antarpribadi diperlukan sikap memberi dukungan dari pihak komunikator agar komunikan mau berpartisipasi dalam komunikasi. Hal ini senada dikemukakan Sugiyo (2005: 6) dalam komunikasi antarpribadi perlu adanya suasana yang mendukung atau memotivasi, lebih-lebih dari komunikator. Rahmat (2005 :133) mengemukakan bahwa “sikap supportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif . Orang yang defensif cenderung lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya ddalam situasi komunikan dari pada memahami pesan orang lain. Dukungan merupakan pemberian dorongan atau pengobaran semangat kepada orang lain dalam suasana hubungan komunikasi. Sehingga dengan adanya dukungan dalam situasi tersebut, komunikasi antarpribadi akan bertahan lama karena tercipta suasana yang mendukung. Jack R.Gibb (Rahmat, 2005: 134) menyebutkan beberapa perilaku yang menimbulkan perilaku suportif, yaitu:
a)      Deskripsi, yaitu menyampaikan perasaaan dan persepsi kepada orang lain tanpa menilai; tidak memuji atau mengecam, mengevaluasi pada gagasan, bukan pada pribadi orang lain, orang tersebut “merasa” bahwa kita menghargai diri mereka.
b)      Orientasi masalah, yaitu mengajak untuk bekerja sama mencari pemecahan masalah, tidak mendikte orang lian, tetapi secara bersamasama menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana mencapainya.
c)      Spontanitas, yaitu sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang terpendam.
d)     Provisionalisme, yaitu kesediaan untuk meninjau kembali pendapat diri sendiri, mengakui bahwa manusia tidak luput dari kesalahan sehingga wajar kalau pendapat dan keyakinan diri sendiri dapat berubah.

4)      Rasa positif (positivenes)
Rasa positif merupakan kecenderungan seseorang untuk mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebihan, menerima diri sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, memiliki keyakinan atas kemampuannya untuk mengatasi persoalan, peka terhadap kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah diterima. Dapat memberi dan menerima pujian tanpa pura-pura memberi dan menerima penghargaan tanpa merasa bersalah. Sugiyo (2005: 6) mengartikan bahwa rasa positif adalah adanya kecenderungan bertindak pada diri komunikator untuk memberikan penilaian yang positif pada diri komunikan. Dalam komunikasi antarpribadi hedaknya antara komunikator dengan komunikan saling menunjukkan sikap positif, karena dalam hubungan komunikasi tersebut akan muncul suasana menyenangkan, sehingga pemutusan hubungan komunikasi tidak dapat terjadi. Rahmat (2005: 105) menyatakan bahwa sukses komunikasi antarpribadi banyak tergantung pada kualitas pandangan dan perasaan diri; positif atau negatif. Pandangan dan perasaan tentang diri yang positif, akan lahir pola perilaku komunikasi antarpribadi yang positif pula.
5)      Kesetaraan (Equality)
Kesetaraan merupakan perasaan sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga atau sikap orang lain terhadapnya. Rahmat (2005: 135) mengemukakan bahwa persamaan atau kesetaraan adalah sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis, tidak menunjukkan diri sendiri lebih tinggi atau lebih baik dari orang lain karena status, kekuasaan, kemampuan intelektual kekayaan atau kecantikan. Dalam persamaan tidak mempertegas perbedaan, artinya tidak mengggurui, tetapi berbincang pada tingkat yang sama, yaitu mengkomunikasikan penghargaan dan rasa hormat pada perbedaan pendapat merasa nyaman, yang akhirnya proses komunikasi akan berjalan dengan baik dan lancar.

B.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidakefektifan Komunikasi Antarpribadi
Hambatan-Hambatan Komunikasi Menurut RonLudlow&Fergus Panton Di dalam komunikasi selalu ada hambatan yang dapat mengganggu kelancaran jalannya proses komunikasi. Sehingga informasi dan gagasan yang disampaikan tidak dapat diterima dan dimengerti dengan jelas oleh penerima pesan atau receiver. Menurut Ron Ludlow & Fergus Panton, ada hambatan-hambatan yang menyebabkan komunikasi tidak efektif yaitu adalah (1992,p.10-11) :


1)      Status effect
 Adanya perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia.Misalnya karyawan dengan status sosial yang lebih rendah harus tunduk dan patuh apapun perintah yang diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak dapat atau takut mengemukakan aspirasinya atau pendapatnya.
2)      Semantic Problems
Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaanya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasi seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan sematis ini, sebab kesalahan pengucapan atau kesalahan dalam penulisan dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau penafsiran (misinterpretation) yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi (miscommunication). Misalnya kesalahan pengucapan bahasa dan salah penafsiran seperti contoh: pengucapan demonstrasi menjadi demokrasi, kedelai menjadi keledai dan lain-lain.
3)      Perceptual distorsion
Perceptual distorsion dapat disebabkan karena perbedaan cara pandangan yang sempit pada diri sendiri dan perbedaaan cara berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain. Sehingga dalam komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan wawasan atau cara pandang antara satu dengan yang lainnya.
4)      Cultural Differences
Hambatan yang terjadi karena disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama dan lingkungan sosial. Dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Sehingga ada beberapa kata-kata yang memiliki arti berbeda di tiap suku. Seperti contoh: kata “jangan” dalam bahasa Indonesia artinya tidak boleh, tetapi orang suku jawa mengartikan kata tersebut suatu jenis makanan berupa sup.
5)      Physical Distractions
Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contohnya : suara riuh orang-orang atau kebisingan, suara hujan atau petir, dan cahaya yang kurang jelas.
6)      Poor choice of communication channels
Gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya sambungan telephone yang terputus-putus, suara radio yang hilang dan muncul, gambar yang kabur pada pesawat televisi, huruf ketikan yang buram pada surat sehingga informasi tidak dapat ditangkap dan dimengerti dengan jelas.
7)      No Feed back
Hambatan tersebut adalah seorang sender mengirimkan pesan kepada receiver tetapi tidak adanya respon dan tanggapan dari receiver maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia. Seperti contoh : Seorang manajer menerangkan suatu gagasan yang ditujukan kepada para karyawan, dalam penerapan gagasan tersebut para karyawan tidak memberikan tanggapan atau respon dengan kata lain tidak peduli dengan gagasan seorang manajer.
C.    Kemampuan menyimak Dalam Komunikasi Antarpribadi
Menyimak dan mendengar bukanlah fungsi yang sama. Mendengar adalah proses masuknya gelombang suara melalui telinga dan kemudian dikirim ke otak. Sedangkan menyimak merupakan proses yang lebih rumit. Setelah gelombang suara dikirim ke otak, ada proses berikutnya yang harus dilalui ketika kita menyimak. Menyimak tidak hanya dipengaruhi oleh audio dan visual saja, melainkan ada juga peran sense, emosi, rasa, sentuhan, dan sebagainya yang juga berpengaruh dalam proses penyimakan. Baddeley & Hitch (1974) menyatakan bahwa setelah pesan diterima secara audio (dan visual), maka pesan tersebut akan bertemu dengan apa yang disebut dengan memori.
Short Term Memory (STM) merupakan memori jangka pendek yang memegang informasi dalam jumlah yang sangat terbatas dan jangka waktunya berbeda-beda pada masing-masing orang. Menurut psikolog kognitif, atensi (perhatian) merupakan kombinasi dari system sensor dan mekanisme memori. Salah satu factor yang bisa mempengaruhi system sensor dan mekanisme memori adalah peran media. Karena pengaruh media, jangka waktu seseorang dalam memberikan perhatian dan konsentrasi pada sebuah hal menjadi semakin terbatas. Di “era televisi” seperti sekarang, orang sudah terbiasa dengan hadirnya iklan di setiap tayangan program. Rata-rata jeda iklan satu dengan iklan berikutnya adalah 7-10 menit, sehingga lamanya waktu dalam memperhatikan menjadi tersistem mengikuti pola tersebut. Dengan demikian akan mempengaruhi juga misalnya pada : perhatian waktu menyimak kuliah, partisipasi ketika terlibat pembicaraan, lamanya waktu menyimak (berkonsetrasi) menjadi terbatas.
            Menurut Kahneman (1973), kemampuan penyimak dalam memperhatikan pesan dipengaruhi oleh energi atensi. Energi atensi dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu : 
  1. Berdasarkan beban mental, semakin banyak beban pada diri seseorang maka akan semakin terbatas energy atensi dari seseorang; 
  2. Tindakan di luar kesadaran (misalnya, orang akan lebih focus memperhatikan ketika namanya disebut dalam sebuah pesan yang ia dengar); 
  3. Keputusan yang disadari (misalnya, kita cenderung memperhatikan pesan yang disampaikan oleh atasan daripada yang disampaikan oleh rekan kerja kita).
Mempersepsikan pesan tidak hanya dipengaruhi oleh energy atensi, melainkan juga oleh perceptual filter. Perceptual filter berfungsi untuk menyaring atau memilih pesan berdasarkan kecenderungan perilaku dan pola pikir penyimak. Kecenderungan ini dipengaruhi oleh frame of references masing-masing penyimak. Sedangkan frame of references seseorang dipengaruhi oleh pengalaman, peran, kondisi mental atau fisiknya.Frame of references akan membuat proses menyimak menjadi lebih sistematis. Dengan adanya frame of references, seseorang akan benar-benar memilih mana yang sebenarnya ingin ia dengar, dan mana yang tidak ketika berkomunikasi.
Menterjemahkan merupakan awal dari proses decoding. Proses menterjemahkan dipengaruhi oleh perceptual filter dan linguistic category system (system kebahasaan). Sistem kebahasaan menyebabkan setiap orang bisa memiliki pemaknaan yang berbeda-beda terhadap suatu hal (pesan). Misalnya seorang yang menyampaikan pesan dengan kalimat yang ambigu, maka bisa saja pesan tersebut dimaknai berbeda oleh penyimaknya.
Selain dua hal tersebut di atas. proses kognitif juga berpengaruh pada proses penterjemahan. Proses kognitif merupakan aktifitas mental yang dibentuk oleh : dominasi otak kanan dan kiri; orientasi deduktif, induktif dan intuisi; serta long term memory. Dalam keseharian, setiap orang bertemu dengan ketiga proses kognitif tersebut, sehingga kemampuan untuk memanggil kembali informasi atau memori yang tersimpan menjadi penting dalam proses komunikasinya.
Proses decoding menjadi sebuah proses yang komplek dalam memaknai dan menerjemahkan pesan. Untuk menggambarkan kompleksitas tersebut, psikologi kognitif menggunakan “teori skema” (kerangka mental yang berpusat pada tema-tema spesifik yang membantu mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi). Skema dibentuk oleh pengalaman dan budaya (berhubungan dengan nilai-nilai). Teori skema mengatakan bahwa manusia memiliki skemata di otaknya. Schemata terdiri dari 2 unsur yaitu nodes (pusat, sentral, event, objek) dan links (relationship, cabang-cabang dari nodes). Informasi baru yang didapat oleh penyimak, diterima pertama kali melalui schemata, baru setelah itu diterjemahkan maknanya.
Fungsi schemata yaitu menghubungkan konsep informasi besar yang diterima (nodes) dan links, keduanya lalu dikaitkan ke suatu tindakan untuk dapat mengantisipasi konsekuensi atau resiko. Menurut Smith (1982), fungsi schemata ada 3, yaitu : 
  1. Memberi tahu kita, apa hal yang perlu diperhatikan; 
  2. Kerangka kerja (framework) untuk menafsir informasi apa yang masuk; 
  3. Membentuk kerangka penyimpanan pesan di memori.
Dengan begitu, respon kognitif terhadap pesan berfungsi untuk membatasi interpretasi penyimak terhadap informasi yang diterima.
Setelah memaknai sebuah pesan, penyimak lalu menanggapinya (merespon). Ada 2 tahapan respon yaitu internal dan eksternal. Proses internal adalah tahapan dari proses mendengarkan, memperhatikan , dan menginterpretasikan pesan dari memori jangka pendek (STM) ke memori jangka panjang (LTM) agar dapat diingat sewaktu-waktu.
Untuk memudahkan dalam penyimpanan memori tersebut, ada beberapa strategi yang bisa digunakan yaitu : 
  1. Mnemonic device, membikin singkatan pribadi untuk memudahkan pemahaman terhadap sebuah pesan; 
  2. Linking, membuat keterkaitan hubungan dengan yang lain (peristiwa, waktu, tempat, dsb); 
  3. Clustering, mengelompokkan pesan sesuai dengan klasifikasinya (penentuan pengelompokan ini tergantung atas pengalaman pribadi penyimak); 
  4. Chunking (menggabungkan pesan agar dapat diartikan menjadi satu konsep).
Proses kedua adalah eksternal, yang merupakan feedback dari sebuah pemaknaan pesan. Dapat memberikan feedback atas pesan yang diterima merupakan salah satu indikasi seorang penyimak yang baik.
Adanya feedback dapat meningkatkan rasa percaya diri, karena baik penyimak dan pembicara memperoleh keyakinan bahwa pesan dikomunikasikan dengan tepat (Leavit and Muller, 1968).Bagi sebagian pakar, feedback bukan merupakan bagian dari proses menyimak karena feedback bentuknya sudah menyampaikan (tidak lagi mendengar). Tapi ada juga yang berpendapat bahwa feedback merupakan indikasi keberhasilan dari proses menyimak.
Proses Receiving, Attending, Perceiving, Interpretting dan Responding dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : pembicara, penyimak, lingkungan, pesan, dan chanel. Kelima proses menyimak tersebut saling mempengaruhi dan dalam prakteknya (dapat) terjadi secara bersama-sama. Misalnya ketika seseorang sedang menterjemahkan pesan, pada saat itu juga terjadi proses menerima dan mempersepsikan pesan (bisa pesan yang sama ataupun berbeda).
D.    Apa itu membuka diri
Membuka diri adalah mengemukakan bagaimana reaksi terhadap situasi yang dialami saat ini dan memberikan informasi yang relevan mengenai masa lalu sebagai usaha untuk memahami mengapa pada saat ini muncul reaksi tertentu. Artinya dalam membuka diri seseorang membagi perasaannya dengan orang lain terhadap peristiwa yang baru saja terjadi, atau pada apa yang baru saja dilakukan dan dikatakan orang lain.
Dalam kehidupan sosial di masyarakat, individu seringkali dirundung rasa curiga dan tidak percaya diri yang kuat sehingga tidak berani menyampaikan berbagai gejolak atau pun emosi yang ada di dalam dirinya kepada orang lain, apalagi jika menyangkut hal-hal yang dianggapnya tidak baik untuk diketahui orang lain. Akibatnya individu tersebut lebih banyak memendam berbagai persoalan hidup yang akhirnya seringkali terlalu berat untuk ditanggung sendiri sehingga menimbulkan berbagai masalah psikologis maupun fisiologis.
Hal tersebut harus dilihat sebagai suatu siklus yang melibatkan 3 (tiga) hal yaitu pengungkapan diri, hubungan persahabatan dan penerimaan terhadap diri sendiri. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
1)      Merupakan suatu hal yang sangat baik jika seseorang mengatakan kepada temannya atau orang lain yang berinteraksi daenganya, bagaimana mereka dapat mempengaruhi dirinya. Dengan mengungkapkan  perasaan dan berbagi pengalaman maka akan dapat semakin mempererat hubungan persahabatan.
2)      Penerimaan teman atau orang lain  akan memudahkan seseorang untuk dapat menerima kondisi dirinya sendiri.
3)      .Karena seseorang sudah dapat menerima diri sendiri dan merasa nyaman dengan kondisi tersebut, maka orang tersebut akan lebih mudah untuk mengungkapkan diri sehingga hubungan dengan teman terasa lebih menyenangkan.
4)      Dengan adanya berbagai masukan dari orang lain, rasa aman yang tinggi, dan penerimaan terhadap diri, maka seseorang akan dapat melihat dirinya sendiri secara lebih mendalam dan mampu menyelesaikan berbagai masalah hidup.
Membuka diri tidak selalu dapat ditampilkan setiap saat namun harus mempertimbangkan situasi dan jenis hubungan yang perlu diperhatikan, yaitu :
membuka diri sebaiknya dilakukan pada situasi yang spesifik dan merupakan bagian dari suatu hubungan yang berkelanjutan. hubungan yang terbina bersifat dua arah, yaitu apabila kedua orang yang terlibat dalam hubungan menginginkan agar hubungannya terus berlanjut.
memperhatikan apa yang terjadi pada saat itu. Maksudnya membuka diri harus disesuaikan dengan konteks kejadian pada saat itu, misalnya dengan mengatakan mengapa merasa terharu saat mendengar lagu tertentu yang saat itu sedang dindengarkan. mencipatkan situasi yang dapat mempererat hubungan. Membuka diri dapat dilakuakn pada situasi yang mendukung terciptanya hubungan yang lebih erat. Misalnya ada dukungan dari teman atau keluarga untuk mempererat hubungan dengan seseorang.
Memperhitungkan akibat-akibat yang akan terjadi pada suatu hubungan Bila diprediksikan hubungan yang terjalin dapat memberikan akibat positif, maka membuka diri merupakan suatu usaha yang dapat dilakukan. keinginan membuka diri meningkat saat terjadi krisis dalam hubungan. Bila terjadi konflik atau masalah dalam suatu hubungan, dan orang semakin tertarik untuk saling mendekatkan diri, maka pada saat itu membuka diri tepat dilakuakn.
Ketika kita bertemu dengan orang yang tidak tepat atau orang terebut akan memberikan reaksi yang berlebihan dan salah mengartikan terhadap usaha membuka diri, labih baik dian saja.
Bagi yang mengalami masalah dalam mengungkapkan diri kepada orang lain, ada 4 (empat) langkah yang dapat dilakukan agar pengungkapan diri dapat berjalan efektif. Keempat langkah tersebut adalah:
1)      Tanyakan pada diri sendiri, sejauhmana saya akan membuka diri? Hal-hal apa yang bisa saya bagi dengan orang lain dan kepada siapa? Setiap orang memiliki rahasia pribadi. Hal tersebut sangatlah normal karena setiap orang tentu ingin menjaga agar hal-hal khusus tidak perlu diketahui oleh orang lain. Sayangnya banyak rahasia yang sebenarnya justru tidak perlu dirahasiakan karena tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain, tetapi karena takut orang lain tidak memahami rahasia tersebut maka rahasia ini disimpan terus-menerus . Hal inilah yang harus diperhatikan oleh seseorang jika ingin mengungkapkan diri.
2)      Lakukan persiapan sebelum membuka diri. Atasi terlebih dahulu kekhawatiran dan ketakutan Untuk mengatasi kekhawatiran, ketakutan atau ketidakpercayaan diri, seseorang dapat memulai pengungkapan diri dengan memilih topik pembicaraan pada hal-hal yang ringan dan santai. Contohnya: berbagi cerita tentang acara  televisi atau film yang disukai, perawatan mobil/motor, kegiatan di sekolah atau kantor, dll. Pada awalnya usahakan untuk tidak mengutarakan berbagai perasaan atau opini pribadi.  Jika tahapan ini  sudah dilalui dan berhasil dengan baik, barulah memilih orang yang dapat dipercaya untuk mengemukakan pendapat pribadi maupun perasaan pribadi tentang suatu hal, misalnya utarakan apa yang di rasakan dan apa yang diharapkan dari teman. Secara berangsur-angsur lakukan hal tersebut dengan beberapa yang berbeda. Dengan cara ini seseorang akan menjadi lebih mudah untuk memulai komunikasi dan selanjutnya menjadi terbiasa dalam berbagi informasi
3)      Tingkatkan terus ketrampilan dalam mengungkapkan diri.  Pelajari cara-cara mengungkapkan diri dan bagaimana memberikan masukan yang bermanfaat. Pengungkapan diri melibatkan cara-cara penyampaian informasi yang baik dan jelas sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi orang yang menerima informasi tersebut.  Jika ingin berbagi informasi maka kemukakan hal itu sejelas-jelasnya, hindari ketidakjujuran, kemukakan dengan bahasa sederhana dan jangan berbelit-belit. Jangan berasumsi bahwa orang lain mempunyai presepsi yang sama, mengetahui perasaan dan kebutuhan seseorang tanpa harus dikatakan. Ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang dapat membaca pikiran orang lain. Jadi seseorang harus mengatakan dan menjelaskan bagiamana perasaannya, apa kebutuhannya saat ini dan apa yang diharapkan dari orang lain. Jika ada hal-hal yang dirasa kurang jelas, bertanyalah pada saat ini dan jangan berasumsi.
4)      Ungkapkan diri anda secara tepat dengan pemilihan waktu dan situasi yang tepat pula Agar dapat mengungkapkan diri secara tepat pada waktu atau situasi yang tepat, perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: Pertama-tama harus memiliki suatu alasan mengapa perlu membuka diri. Dengan siapa akan berbicara..teman dekat? orangtua? atasan? kenalan baru? atau siapa? Sejauhmana pengungkapan diri akan membahayakan diri sendiri?
Manfaat Membuka Diri :
1)      Meningkatkan kesadaran diri (self-awareness). Dalam proses pemberian informasi kepada orang lain, seseorang akan lebih jelas dalam menilai kebutuhan, perasaan, dan hal psikologis dalam dirinya. Selain itu, orang lain akan membantu dalam memahami diri seseorang, melalui berbagai masukan yang diberikan, terutama jika hal itu dilakukan dengan penuh empati dan jujur.
2)      Membangun hubungan yang lebih dekat dan mendalam, saling membantu dan lebih berarti bagi kedua belah pihak. Keterbukaan merupakan suatu hubungan timbal balik, semakin terbuka pada orang lain maka orang lain akan berbuat hal yang sama. Dari keterbukaan tersebut maka akan timbul kepercayaan dari kedua pihak sehingga akhirnya akan terjalin hubungan persahabatan yang sejati.
3)      Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi yang memungkinkan seseorang untuk menginformasikan suatu hal kepada orang lain secara jelas dan lengkap tentang bagaimana ia memandang suatu situasi, bagaimana perasaannya tentang hal tersebut, apa yang terjadi, dan apa yang diharapkan.
4)      Mengurangi rasa malu dan meningkatkan penerimaan diri (self acceptance). Jika orang lain dapat menerima orang lain apa adanya maka kemungkinan besar orang itupun dapat menerima dirinya.
5)      Memecahkan berbagai konflik dan masalah interpersonal. Jika orang lain mengetahui kebutuhan seseorang, ketakutan, rasa frustrasi, dsb, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk bersimpati atau memberikan bantuan sehingga sesuai dengan apa yang diharapkan.
6)      Memperoleh energi tambahan dan menjadi lebih spontan. Harap diingat bahwa untuk menyimpan suatu rahasia dibutuhkan energi yang besar dan dalam kondisi demikian seseorang akan lebih cepat marah, tegang, pendiam dan tidak riang. Dengan berbagi informasi hal-hal tersebut akan hilang atau berkurang dengan sendirinya.











Daftar Pustaka
Sugiyo. 2005. “Komunikasi Antarpribadi”. Semarang: UNNES Press
Liliweri, Alo. 2004. “Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya”. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Changara, Hafied. 2003. “Pengantar Ilmu Komunikasi”. Jakarta: Raja Grafindo